Ironisme Idul Fitri

 Ironisme Idul Fitri
Idul Fitri bermakna hari Eid (hari Raya), merayakan kembalinya manusia kepada fitrah. Fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Ada juga yang memaknai fitrah sebagai segenap potensi baik yang telah ditanamkan Allah sejak manusia lahir ke dunia.

Kembali ke fitrah, sesungguhnya adalah kembali ke asal. Kembali sebagaimana dulu kita dilahirkan. Dulu kita lahir dengan dilengkapi fitrah keimanan, keyakinan pada adanya Allah, Tuhan Semesta Alam. Namun seiring waktu, keyakinan itu tergerus hingga sebatas kepercayaan. Keyakinan akan meniscayakan akhlak yang superbaik, karena benar-benar merasa setiap saat dijaga, sekaligus diawasi oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang yang hanya percaya pada Allah, cenderung sering lupa dan tergelincir pada berbagai perbuatan maksiat.

Puasa Ramadhan sejatinya adalah latihan untuk kembali ‘pulang’ kepada-Nya. Kembali meyakini keberadaan-Nya dengan segenap keyakinan. Karena, di bulan Ramadhan, idealnya kita melatih diri meninggalkan aktivitas-aktivitas yang boleh dilakukan. Bila untuk ‘yang boleh’ saja kita mampu menahan diri, seharusnya terhadap ‘yang tidak boleh’, kita lebih mampu lagi menjauhinya, karena kita ingat bahwa untuk segala perbuatan akan ada ganjarannya. Di bulan Ramadhan pula Allah menjanjikan pahala dan ampunan dari segala dosa, tentu kepada yang beribadah dengan sebaik-baiknya, tidak sekedar ibadah ritual, namun juga ibadah sosial.

Tentu makna ini terasa janggal bila kita melihat tingginya konsumerisme di sekitar kita menjelang Idul Fitri. Harga-harga pun melonjak. Mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas, mungkin tetap mampu menjangkau. Sebaliknya, saudara-saudara kita yang berada di garis kemiskinan akan semakin menderita karena harga-harga bahan pokok yang semakin sulit dijangkau.

Secara teori, seharusnya, dengan berpuasa, pengeluaran semakin sedikit, dan uang yang berlebih disumbangkan kepada fakir miskin. Namun seringkali kita merasa telah cukup dengan membayar zakat fitrah. Itu pun distribusinya biasanya terbatas, tak bisa menjangkau kaum miskin di berbagai pelosok negeri. Belum menjadi sebuah gerakan nasional yang tersistematisasi untuk mengentaskan kemiskinan.

Belum lagi bila kita melihat di Timur Tengah, yang terjadi di bulan Ramadhan ini justru berbagai aksi bom bunuh diri yang dilakukan orang-orang yang mengaku Muslim, yang menewaskan ratusan Muslim lainnya. Jelas ini ironisme besar dalam memaknai Ramadhan dan Idul Fitri. Bagaimana mungkin ‘memperjuangkan’ Islam sambil membunuh di bulan Ramadhan?

Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan para hamba yang kembali ke fitrah. Amin. Akhir kata, Redaksi Liputan Islam mengucapkan Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin. Di hari mulia ini, kami memohon doa kepada pembaca sekalian, agar jihad bil qolam (jihad dengan tulisan) ini bisa terus berlanjut demi tersebarnya Islam yang Rahmatan Lil Alamin. (tvshia/LiputanIslam.com)

Kirim komentar