Kemana Muslim di Dunia Menuju?

Oleh: Abdillah Toha

Setiap kali menjelang dan pada bulan Ramadhan kita selalu disuguhi dengan berbagai nasehat dan doa-doa agar kita berbuat baik, mendekatkan diri ke Yang Maha Kuasa, banyak beribadah, bersedekah, mengendalikan nafsu, dan lain-lain. Pada akhir puasa diharapkan setiap Muslim menjadi mukmin baru dan muslih yang membawa kebaikan bagi semua.  Kalau kita berhitung selama 50 atau 100 tahun terakhir setelah 50 atau 100 kali bulan Ramadhan, apa ada di antara kita yang bisa merinci kira-kira perbaikan apa yang telah terjadi di Dunia Islam dalam jangka waktu itu? Tampaknya yang lebih menonjol dan lebih banyak terjadi selama puluhan tahun terakhir adalah kekacauan dan permusuhan di Dunia Islam. Penguasa-penguasa tiran masih terus bertengger, Alqaeda dan ISIS muncul menghiasi halaman Dunia Islam, kemiskinan masih merajalela, penindasan terhadap wanita dan kelompok lemah masih terjadi, perpecahan diantara ummat makin menjadi-jadi, bahkan saling bunuh antar muslim dan seterusnya. Apakah hal ini bisa diartikan bahwa puasanya muslimin pada umumnya selama ini tidak sempurna dan doa-doanya tidak mencapai langit, sehingga puasa hanya sebuah pengalaman dan latihan menahan lapar dan dahaga? Kapan “orang-orang baru” muslim akan muncul? Apakah harus menunggu 50 Ramadhan lagi? Pernahkah kita mengajukan pertanyaan yang demikian?

Demikian juga dengan sholatnya muslim. Sholat yang kita lakukan minimum lima kali sehari seharusnya membuat muslimin lebih baik perilakunya dan lebih tinggi prestasinya karena sholat adalah doa yang mestinya menjauhkan kita dari keburukan dan kejahatan dan mendekatkan kita kepada Sang Khalik sehingga doa-doa kita terkabul.

Lalu mengapa yang terjadi di Dunia Islam sejauh ini terasa sebaliknya? Di bawah ini penulis mencoba mencari jawabannya.

Pertama, kebanyakan muslim di dunia memeluk Islam karena keturunan atau bagian dari budaya masyarakat muslim setempat. Mereka tidak “menemukan” Islam tetapi Islam dianggap sebagai sesuatu yang sudah tersedia dan merupakan bagian tata cara hidup yang tidak perlu dipertanyakan dan digali lagi.

Kedua, karenanya mereka tidak perlu mengetahui terlalu jauh seluk beluk tujuan beragama Islam dan menganggap bila mengikuti “aturan main” yang sudah ditentukan dalam fiqih dan petuah ulama setempat, sudah cukup menjadikannya muslim yang akan meraih surga. Lain halnya dengan para mualaf yang memeluk Islam karena lebih dahulu mempelajari Islam secara mendalam dan menemukan Islam sebagai jawaban yang dicari-cari bagi jalan hidup dan kemaslahatan mereka.

Ketiga, masih berhubungan dengan point 1 dan 2 di atas, tingkat kemiskinan di Dunia Islam yang relatif tinggi dan tingkat pendidikan yang rata-rata rendah dibanding dunia non muslim, adalah sebab utama mengapa mereka tidak mampu dan tidak merasa perlu mengejar pengetahuan, baik yang umum maupun makna yang lebih dalam dari wahyu terakhir Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya yang terakhir.

Keempat, sebagian besar muslim menarik garis pemisah antara ibadah dan amal. Ibadah seperti sholat, puasa, haji, dan sebagainya dipandang sebagai urusan antara dia dengan Tuhan. Bila kewajiban ibadahnya secara berkala telah dipenuhi maka cukuplah itu menjadi bekal untu kehidupan surgawi di akhirat. Amal dianggap sebagai hubungan antar sesama manusia yang tidak ada hubungannya dengan ritual ibadah. Zakatpun yang sebenarnya bagian ibadah yang lebih jelas hubungannya dengan amal, dipandang sebagai bagian dari sekadar ritual wajib sehingga tidak dilaksanakan dan dirasakan sebagai sebuah kesadaran tanggung jawab sosial.

Kelima, Islam yang menyiapkan manusia agar selamat dalam kehidupan ukhrawi belum sepenuhnya dipandang sebagai agama yang juga bertujuan menyejahterakan penganutnya di bumi sebagai makhluk yang utuh dan sejahtera secara fisik dan spiritual. Agama yang esensinya bertujuan mewujudkan kedamaian dan ketenteraman batin melalui kehidupan berakhlak seperti yang dicontohkan dalam perilaku sang Rasul SAW masih dipandang sebagai sekadar paket perintah dan larangan yang datang dari otoritas langit.

Keenam, belum ada kesadaran penuh dikalangan muslim akan banyaknya ayat-ayat yang bertebaran dalam AlQuran yang memberitahu bahwa manusia meraih hasil berdasar usahanya, bahwa Tuhan tidak mengubah manusia sebelum manusia itu mengubah dirinya sendiri, dan bahwa hanya kebaikan (ihsan) yang akan dibalas dengan kebaikan pula di dunia oleh Tuhan, tidak peduli agama apa yang dianut oleh manusia.

Ketujuh, adanya kewajiban untuk ber amar makruf dan ber nahi munkar masih dilihat oleh muslim sebagai perintah untuk berdakwah mendorong pelaksanaan dan kewajiban beribadah serta menumpas praktik-praktik buruk perzinahan, minuman keras dan sejenisnya, tetapi  mengabaikan kewajiban muslim untuk mengentaskan kemiskinan dan menghalau kebodohan serta melawan kekuasaan semena-mena penguasa otoriter yang membatasi ruang gerak dan kebebasan warga negara untuk berkiprah dan berpikir.

Kedelapan, muslim masih terus mencari sebab kemundurannya dengan menyalahkan pihak diluar Islam dan belum mampu melihat diri sendiri dalam cermin yang terang dan tajam untuk menemukan cacat-cacat dalam wajah dan tubuhnya.

Kesembilanan, sebagian besar muslim masih menganggap agamanya bukan sebagai rahmat bagi sekalian alam tetapi sebagai identitas pemisah dengan kelompok lain. Lebih jauh lagi, identitas kelompok itu diperparah dengan adanya berbagai aliran dan mazhab yang menganggap dirinya paling benar dan bila perlu menyebarkan ataupun memperatahankannya dengan kekerasan.

Barangkali masih ada sebab-sebab lain yang belum tercakup diatas, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa jumlah muslim yang meliputi lebih dari 20 persen penduduk dunia saat ini total pendapatannya tidak sampai10 persen pendapatan dunia, dengan perbedaan yang menyolok antara negeri-negeri muslim yang sangat miskin dengan beberapa negeri muslim lain yang berlimpah dengan kekayaan minyak. Pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologinya jauh tertinggal di belakang dunia non muslim dan rata-rata harapan hidupnya lebih rendah. Beberapa survei menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan dan bahkan kehidupan Islaminya tertinggal jauh di bawah negeri-negeri non muslim.

Benar bahwa Dunia Islam cukup bervariasi dan tidak bisa disama ratakan kondisinya bagi semua negara, namun bila dikelompokkan secara keseluruhan itulah gambaran umum yang terjadi selama beberapa abad terakhir.

Islam yang pada masa jayanya justru telah memberikan inspirasi ilmu pengetahuan, filsafat, dan tekonologi kepada Eropa dan negeri-negeri non muslim, kini harus terseok di belakng negeri-negeri itu. Islam akan kembali menjadi agama seperti yang dimaksudkan oleh Rasul SAW pembawa wahyu terakhir ini bila umat Islam mampu bangun dari tidurnya yang panjang dan berpikir kritis memanfaatkan karunia inteleknya sebagai manifestasi rasa syukur kepada Ilahi pencipta sekalian alam. Kebangkitan Islam kembali yang menyebarkan nilai-nilai universal, kemanusiaan, keadaban, dan keadilan hanya akan terjadi bila Dunia Islam mampu menyorot diri sendiri dengan obyektif dan mengalihkan kendalinya dari agama yang terpaku kepada ritualisme, tribalisme, dan fiqihisme menjadi agama yang inspiratif dan mendefinisikan kembali makna ibadah sebagai perilaku menyeluruh yang mencakup kebaikan, kedamaian, kemajuan, keindahan, dan kesejahteraan ummat manusia. Wallah a’lam.

 

tvshia/IslamIndonesia

Kirim komentar