Santri Menjaga NKRI

Untuk menggambarkan heroisme rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda, buku-buku pelajaran sejarah di sekolah pasti menyebut bambu runcing. Ya, hanya berbekal bambu runcing, rakyat Indonesia mampu mengusir penjajah Belanda. Begitulah narasi yang kerap kita baca. Tapi tak pernah dijelaskan bagaimana hal seperti itu terjadi, siapa gerangan yang menggagas bambu runcing?

“Penggagasnya tak lain adalah Kiai Subchi dari Parakan,” kata Munawir Aziz seusai peluncuran buku Pahlawan Santri Tulang Punggung Pergerakan Nasional karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 7 Mei 2016. Pada masa revolusi, ia menjelaskan, kiai yang biasa disapa Subeki itu meminta pemuda-pemuda mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi doa-doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung menghadapi penjajah.

“Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia, tapi nama dan peran kiai tak ditemukan di buku-buku sejarah. Padahal selayaknya negara mengakui beliau sebagai pahlawan,” ujar Munawir.

Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa, Jawa Tengah, pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Dalam kurun waktu itu, Jenderal Soedirman sempat berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa dan restu. Jenderal Soedirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. “Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Soedirman merupakan santri Kiai Subchi,” tulis Munawir dalam artikel bertajuk “KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman” yang tercantum dalam buku karyanya itu.

    Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan rakyat Indonesia, tapi nama dan peran kiai tak ditemukan di buku-buku sejarah."

Ihwal minimnya penulisan kiprah para santri dan kiai di pesantren-pesantren dalam memerangi penjajah dalam buku-buku sejarah juga menjadi kritik dan keprihatinan KH Shalahuddin al-Ayyubi. Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu mencontohkan soal Geger Cilegon pada 1890-an. Peperangan di wilayah Banten itu digerakkan dan diorganisasi oleh Syekh Adbdulkariem, ulama Tarekat Qadariyah-Naqsyabandiyah. “Saat itu belum ada komunitas lain yang melakukan perlawanan yang bersifat besar terhadap kolonial,” ujarnya saat membedah buku Pahlawan Santri.

Buku-buku sejarah di sekolah juga cuma menyebut heroisme pemuda Sutomo alias Bung Tomo dalam peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Lewat pidato-pidato yang agitatif di radio, Bung Tomo kerap memekikkan kata-kata “Merdeka atau Mati” dan “Allahu Akbar”. Tapi soal peran KH Hasyim Ashari dan para kiai Nahdlatul Ulama yang melatari dua pekik itu nyaris tak pernah diungkapkan.

Pasukan Laskar Hizbullah melakukan long march

Foto: repro buku Laskar Ulama-Santri

Foto: Fuad Hasim/detikX

Laskar Bambu Runcing
Foto: repro buku Laskar Ulama-Santri

Bung Tomo tengah diwawancarai para wartawan.

Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Faktanya, heroisme rakyat Surabaya kala itu tak lepas dari sokongan laskar santri yang tergabung dalam Hizbullah-Sabilillah. Semangat mereka dipompa Resolusi Jihad yang disampaikan Kiai Hasyim pada 22 Oktober. Tanpa Resolusi Jihad, perang 10 November yang menyita perhatian dunia itu mungkin tak akan sedahsyat seperti yang terjadi. Tentara Sekutu, yang didukung prajurit terlatih, peralatan, dan persenjataan militer canggih, tak lagi menganggap remeh bangsa dan rakyat Indonesia, yang hanya bermodal senjata rampasan perang.
Tuntutan Nahdlatul Ulama kepada pemerintah Indonesia
Foto: repro buku Laskar Ulama-Santri

Padahal sebelumnya, sebagai pemenang Perang Dunia II, Inggris, yang mengirimkan dua jenderal terbaiknya, yakni Brigadir Jenderal Mallaby dan Mayor Jenderal Robert Mansergh, bakal mampu menguasai Surabaya dalam tiga hari. Tapi, dalam sebulan, Surabaya tak kunjung bisa ditaklukkan, bahkan Mallaby harus menjadi tumbal yang memalukan bagi Sekutu.

“Mbah Hasyim Ashari mengeluarkan Resolusi Jihad karena dimintai tolong oleh para pemimpin Republik untuk mempertahankan eksistensi negara. Jadi tulang punggung yang mempertahankan NKRI itu adalah para santri,” ujar Shalahuddin. Atas dasar itu, ia melanjutkan, para santri yang dididik di lingkungan pesantren tidak boleh merasa menjadi warga kelas dua di negara ini. “Republik ini, negeri ini, bapak-bapak kitalah yang memperjuangkan.”

Kiai Hasyim mencetuskan Resolusi Jihad setelah melihat sejumlah daerah jatuh ke tangan Inggris. Akhir September 1945, atas nama Netherlands Indies Civil Administration (NICA), Inggris menduduki Jakarta. Pertengahan Oktober, pasukan Jepang merebut kembali beberapa kota di Jawa dan menyerahkannya kepada Inggris.

Beberapa hari sebelum Resolusi Jihad, menurut Martin van Bruinessen dalam buku NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, Bandung dan Semarang sudah dikuasai Inggris setelah melalui pertempuran hebat. Pada 25 Oktober, Inggris mulai masuk Surabaya. Rakyat tentu gelisah melihat kondisi ini. Di pihak lain, pemerintah Republik Indonesia, yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan, masih menahan diri dan berupaya melakukan upaya penyelesaian secara diplomatik.

“Resolusi Jihad merupakan pengakuan terhadap legitimasi pemerintah Republik Indonesia sekaligus kritik tidak langsung terhadap sikap pasif pemerintah,” tulis Van Bruinessen.

Senada dengan yang disampaikan Shalahuddin, penulis buku Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, Zainul Milal Bizawie, menyatakan kepahlawanan para santri dan kiai penting untuk dikumandangkan agar negara ini tidak melenceng menjadi sekuler. Sebab, bangsa ini dibangun tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan doa, tirakat, dan ijtihad yang luar biasa sekali. “Hasilnya sebuah negara yang toleran, heterogen, menghormati keberagaman. Tidak harus dengan negara Islam. Negara Islam di Timur Tengah sudah karut-marut, sementara di negara ini, kita bisa hidup harmonis,” ujar Zainul dalam acara yang sama.

Sejarawan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu juga mengingatkan, semasa penjajahan Hindia-Belanda, meski kerajaan-kerajaan di Nusantara takluk kepada Belanda, para santri terus bergerilya menanamkan semangat perlawanan dari satu pondok ke pondok lain dan dari satu daerah ke daerah lain. Bahkan perjuangan tersebut membentuk jaringan dengan para santri yang pernah belajar di Timur Tengah, terutama di jazirah Arab.

Milal, yang pernah mondok di Pondok Pesantren Kajen, Pati, Jawa Tengah, juga mengingatkan, pada zaman Walisongo, kebersamaan tumbuh antara masyarakat pribumi, Arab, dan Tionghoa. Bahkan laskar Jawa yang Islam dan laskar Tionghoa pernah bersama-sama melawan Belanda.

Reporter: Pasti Liberti Mappapa
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

Kirim komentar