Hedonisme Racun Mematikan dari Barat
Setiap manusia pasti menginginkan kebahagiaan dan kesenangan dalam hidupnya. Kebahagiaan dan kesenangan adalah fitrah dan hak bagi setiap manusia. Bermacam-macam cara dilakukan untuk meraih yang namanya kebahagiaan, baik itu dengan cara yang halal maupun cara yang haram. Bila kita melihat masyarakat disekeliling kita cenderung mencari dan mengutamakan kebahagiaan dirinya bagaimanapun caranya. Manusia senantiasa menghindari penderitaan dan mereka tidak menginginkan rasa sakit dan kesulitan. Namun jika kecenderungan hedonisme terlalu berlebihan dan tidak dikekang, maka seseorang akan terjerumus pada kecenderungan untuk bersenang-senang belaka dan berusaha untuk meraih kesenangan tersebut dengan menghalalkan segara cara serta keluar dari norma-norma moral.
Manusia yang hanya memikirkan untuk bersenang-senang tanpa diimbangi dengan sisi spiritual maka akan merusak diri sendiri dan masyarakat. Sangat disayangkan peristiwa seperti ini kerap terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Dalam sejarah umat manusia juga muncul kecenderungan untuk bersenang-senang secara berlebihan dan mereka kemudian memunculkan aliran filsafat hedonisme.
Hedonisme merupakan salah satu teori etika yang paling tua, paling sederhana, paling kebenda-bendaan, dan dari abad ke abad selalu kita temukan. Untuk aliran ini, kesenangan (kenikmatan) adalah tujuan akhir hidup dan yang baik yang tertinggi. Kaum hedonis modern memilih kata kebahagiaan untuk kesenangan.
Hedonisme pertama-tama dirumuskan oleh Aristippus yang salah menafsirkan ajaran gurunya, Socrates yang berkata bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan. Aristippus menyamakan kebahagiaan dengan kesenangan. Menurutnya, kesenangan berkat gerakan lemah, rasa sakit berkat gerakan kasar. Kesenangan sesaat yang dinikmati itu yang dihargai. Suatu perbuatan disebut baik jika dapat menyebabkan kesenangan dan memberi kenikmatan. Kebajikan menahan kita agar tidak jatuh dalam nafsu yang berlebihan yakni gerakan kasar jadi tidak menyenangkan.
Hedonisme dihaluskan oleh Epicurus dan dihubungkan teori fisika dari Demokritos. Epicurus, tujuan hidup bukan kesenangan yang kuat, melainkan suatu kedamaian. Kita harus menghindari rasa takut terhadap dewa dan maut. Kesenangan intelektual saja tidak cukup, tanpa merasakan kesenangan inderani. Suatu perumusan yang kurang tepat oleh Epicurus untuk menghindari rasa takut terhadap dewa dan maut, yakni melalui cara senang-senang atau mengejar materi dalam hidup. Sepertinya Epicurus orang yang materialistis dan percaya setelah mati maka putuslah kehidupan manusia, tapi anehnya dia masih percaya adanya dewa. Epicurus ini sama halnya seperti manusia jaman sekarang atau orang-orang yang beragama yang selalu takut mati dan percaya Tuhan tapi jarang bahkan tidak pernah menjalankan perintah-Nya.
"Hedonism" menurut kamus oxford memiliki makna The highest good and proper aim of human life (Tujuan hidup manusia yang paling baik dan menyeluruh). John Winter dalam bukunya yang berjudul Agar Langkah Hidup Anda Bahagia, mengatakan bahwa gaya hidup hedonisme diciptakan oleh sebuah zaman di mana zaman ini telah mendahulukan keinginan yang bersumber dari hawa nafsu, bukan dari pikiran rasional yang nyata.
Kini di Barat, hedonisme berubah menjadi sebuah budaya dan dipuji-puji. Kehormatan keluarga yang menjadi asas sebuah masyarakat telah diinjak-injak di Barat dan instansi ini sepenuhnya terancam kehancuran. Gaya hidup hedonisme mengakibatkan generasi muda Barat terjebak pada kecanduan alkohol, narkotika dan perilaku seks menyimpang. Tak hanya itu, pemuda Barat pun semakin liar mengumbar hawa nafsunya. Sejumlah perilaku yang sebelumnya dianggap tabu dan menyimpang di Barat seperti hubungan sesama jenis dan seks bebas kini berubah menjadi hal biasa. Parahnya perilaku menyimpang seperti ini di Barat bahkan dipuji dan dikampanyekan besar-besaran. Sementara itu yang pasti, perempuan Barat, khususnya Amerika Serikat menjadi korban utama budaya hedonisme ini.
Hedonisme terjadi karena adanya perubahan perilaku pada masyarakat yang hanya menghendaki kesenangan.Perilaku tersebut lama kelamaan mengakar dalam kehidupan masyarakat termasuk para remaja yang pada akhirnya menjadi seperti sebuah budaya bagi mereka tingkat pengetahuan dan pendidikan juga sangat berpengaruh pada pembentukan sikap mental para remaja.Tapi sayangnya kadang semua hal itu terkalahkan dengan rendahnya cara berfikir mereka dalam menyikapi berbagai persoalan. Banyak diantara para remaja yang melarikan diri dari masalah dengan berhura-hura. Kebiasaan seperti inilah yang kemudian menjadi kebudayaan di kalangan remaja.
Dalam identifikasi mentalitas budaya yang dikemukakan Sorokin, sikap hedonisme yang telah menjadi budaya hedon di kalangan remaja dimasukkan dalam kebudayaan indrawi. Yaitu kebudayaan indrawi pasif dan kebudayaan indrawi sinis. Kebudayaan indrawi pasif yang meliputi hasrat menikmati kesenangan indrawi setinggi-tingginya ("eksplorasi parasit", dengan motto makan minum dan kawinlah sebab besuk kita akan mati). Pola pikir seperti itulah yang mengajak para remaja hanya bersenang-senang selagi ada kesempatan,seakan-akan hidup hanya"mampir"karena itulah mereka hanya mengejar kesenangan,padahal masih banyak hal yang bernilai dalam hidup ini selain makan minum dan bersenang-senang saja.
Kebudayaan indrawi sinis, yang mengejar tujuan jasmaniah dengan mencari pembenaran rasionalisasi ideasional (yang sebenarnya tidak diterimanya). Banyak hal yang dilakukan para remaja untuk mencapai apa yang diinginkannya, misal: seorang remaja putri ingin mempunyai telepon genggam model terbaru tapi karena dia tidak mempunyai uang maka dia rela menjual dirinya agar memperoleh uang. Remaja tersebut membenarkan tindakannya karena dengan cara itu dia memperoleh apa yang diinginkannya.
Sementara itu, perubahan budaya berarti perubahan keyakinan, ideologi, moral, perilaku, kebiasaan, seni dan undang-undang. Seiring dengan dimulainya era renaisans di abad 15, muncullah ideologi baru yang berpengaruh besar pada pemikiran dan keyakitan warga Barat. Perubahan budaya Barat pun dimulai di abad renaisans. Di era renaisans ini pula, secara bertahap manusia mulai menjadi tolok ukur dan era pengaruh Gereja dengan doktrin-doktrinnya mulai pudar serta tersingkir.
Pada abad-abad pertengahan, manusia diposisikan sebagai makhluk yang pasif dan tak punya ikhtiar apapun di depan para elit gereja. Akibatnya, pada era Renaisans lahirlah sebuah gerakan dengan misi mengembalikan kebebasan manusia yang telah dinistakan. Mula-mula gerakan ini memprioritaskan reformasi keagamaan, dan setelah beberapa lama secara ekstrim gerakan ini menentang segala sesuatu yang dipaksakan dengan atas nama agama.
Pencorengan citra agama yang dilakukan para penguasa gereja pada abad pertengahan telah menimbulkan sebuah gerakan bernama humanisme yang bermula pada era Renaisans, sebuah gerakan yang manganggap kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai dengan kembali kepada era klasik, atau dengan kata lain era politeisme. Kaum humanis meyakini bahwa manusia pada era klasik telah mengandalkan potensi-potensi wujudnya tanpa keterikatan kepada agama, gereja, dan para penguasa gereja. Jalan kembali kepada era klasik bisa ditempuh melalui perhatian kepada kebudayaan dan kesusasteraan klasik.
Kaum humanis memandang penekanan kepada ilmu logika dan ilmu-ilmu teoritis seperti ilmu metafisik sebagai sikap yang kurang patut. Mereka hanya berminat kepada kepada bidang-bidang yang berfungsi langsung dalam kehidupan masyarakat, seperti retorika dan cabang-cabangnya termasuk politik, sejarah, dan syair. Selain itu, mereka juga tertarik kepada bidang dialektika atau seni dialog. Secara lebih umum, kaum humanis terikat kepada pemikiran mengenai kedudukan dan potensi manusia di dunia tanpa mempertimbangkan nasib manusia di alam azali.
Dengan demikian perubahan kultur dan budaya Barat mula-mulai diawali dengan terpisahnya hubungan manusia dengan Tuhan dan kemudian muncul aliran hedonisme serta pemuasan hawa nafsu yang tidak terkontrol untuk memenuhi kekosongan ini. Sebuah masyarakat yang terkungkung dan dipengaruhi oleh berbagai lelucon, acara merusak dan entertainment (hiburan) tidak akan mengutamakan pembicaraan serius dan menentukan. Masyarakat seperti ini tidak akan bersedia mendengarkan nasehat yang mendidik, karena peluang untuk berpikir telah musnah.
Neil Postman, pemikir dan sosiolog asal Amerika Serikat mengatakan, "Budaya tertawa dan bercanda telah menghancurkan bangsa Amerika...Rakyat Amerika di manapun berada tidak pernah saling menyapa dan berdialog, namun mereka hanya menghibur dan mencari kepuasan diri sendiri." Sementara itu, Islam sebagai agama Ilahi paling sempurna meyakini kenikmatan materi harus dibatasi dengan hukum Ilahi, sehingga tidak akan terjadi kontradiksi. Manusia diharuskan meninggalkan berbagai kenikmatan haram demi menjaga ketenangan spiritual masyarakat. Jika tidak maka sebuah masyarakat akan terseret pada kehancuran dan dilanda berbagai gangguan mental.
Kini Barat mulai menghadapi ancaman serius akibat budaya entertainment dan hedonisme yang tak terkendali khususnya kebebasan seks. Seakan-akan masyarakat Barat saat ini dalam hidupnya tidak memiliki tujuan lain kecuali memuaskan keinginannya untuk bersenang-senang tanpa batas.[TvShia/IRIB Indonesia]
Kirim komentar