Blunder PPB di Irak

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tidak memperdulikan seruan pemerintah Baghdad untuk mendukung penumpasan teroris di Irak. Bahkan ironisnya, PBB justru mengkhawatirkan potensi dampak destruktif berlanjutnya operasi pembebasan kota Mosul dari tangan kelompok teroris Daesh yang dilancarkan rakyat dan militer Irak.

Kantor koordinator urusan kemanusiaan PBB dalam laporannya hari Senin (18/7) mengklaim upaya perebutan kembali Mosul, ibu kota provinsi Ninevehdari cengkeraman teroris Daesh oleh rakyat dan militer Irak akan berdampak buruk terhadap warga sipil di wilayah itu.

Tanpa menyinggung sedikitpun pembantaian yang dilakukan kelompok teroris Daesh terhadap warga sipil Irak di Mosul, kantor koordinator urusan kemanusiaan PBB menyatakan bahwa operasi yang akan dilancarkan militer Irak bersama relawan rakyat negara ini akan menyebabkan ratusan ribu orang menderita.

Kekhawatiran tersebut mengemuka di saat kelompok teroris Daesh setiap bulannya rata-rata membunuh sekitar 1.000 warga sipil Irak sejak menduduki sebagian wilayah negara Arab itu pada Juni 2014 lalu hingga kini.

Pembunuhan 1.700 orang mahasiswa akademi militer kamp Speicher di Tikrit, penghancuran besar-besaran warisan budaya dunia, penggunaan anak-anak sebagai perisai manusia di medan tempur, pelatihan aksi teroris, serta penyanderaan 5.000 wanita dan gadis Kurdi Yazidi, hanya sebagian dari deretan kejahatan kelompok teroris Daesh selama dua tahun lalu.

Kini yang menjadi pertanyaan, mengapa PBB dalam kondisi sensitif saat ini justru mengamini sepak terjang pejabat AS dan Arab Saudi dari pada mendukung aksi pembersihan teroris yang dilancarkan militer Irak.

Sebelumnya, dalam operasi pembebasan Fallujah dari tangan kelompok teroris Daesh, PBB justru mengamini klaim Saudi dengan melemparkan tudingan infaktual mengenai penggunaan kekerasan dalam operasi tersebut.

Pengalaman satu dekade menunjukkan bahwa perlawanan yang dilancarkan rakyat dan pemerintah Irak untuk meraih kemerdekaan dan kedaulatan negaranya seringkali dihambat oleh musuh yang tidak menghendaki kemajuan negara mereka dengan menjegal dari berbagai arah melalui beragam cara.

Dalam kondisi demikian pejabat dan tokoh politik, serta ulama dan masyarakat Irak berulangkali mengingatkan konspirasi musuh yang hendak memecah belah negara Arab ini. Sejatinya, jalan satu-satunya untuk mencapai kemerdekaan dan kemajuan adalah persatuan nasional dan kewaspadaan rakyat serta seluruh elemen bangsa dan negara dalam menghadapi konspirasi musuh, terutama AS dan Arab Saudi.

Kirim komentar