Menyambut Hari Raya Idul Fitri (1)
Idul Fitri, hari raya yang membangkitkan fitrah manusia melalui puasa di bulan suci Ramadan serta membuat kehidupan manusia harum semerbak. Lantunan takbir dan tasbih serta puja dan puji kepada Tuhan membuat jiwa-jiwa kering dipenuhi semangat dan hidup. Hari ini adalah hari raya Idul Fitri, hari ketika bumi dan langit tenggelam dalam sukacita dan kegembiraan. Penghuni bumi setelah beribadah selama satu bulan penuh di bulan suci Ramadan, merayakan hari bahagia Idul Fitri dan para penghuni langit
Siang dan malam bulan Ramadan berlalu silih berganti. Orang-orang mukmin melewati satu demi satu buka puasa (Iftar) dan sahur serta mencicipi lezatnya penghambaan serta ibadah kepada Tuhan. Kini seiring dengan terbitnya matahari di awal bulan Syawal, mereka mengucapkan perpisahan dengan bulan Ramadan dan merayakan kemenangan mereka di hari raya Idul Fitri. Mereka merasa dilahirkan kembali dan semakin dalam merasakan keimanan dalam diri mereka.
Di hari-hari ini, segala sesuatu mencerminkan suasana Ilahi dan manusia menemukan dirinya berada di kondisi keimanan serta munajat kepada Tuhan, karena hari ini rahmat Ilahi tercurah kepada hamba-Nya lebih besar ketimbang hari-hari biasa. Manusia memanfaatkan momen ini dan lebih mengakrabkan diri dengan Tuhan serta meniti jalan penghambaan.
Idul Fitri merupakan salah satu hari ketika orang mukmin berulang kali mencicipi manisnya spiritualitas hari berbahagia tersebut. Perasaan ringan dan kepuasan manusia setelah menjalani ibadah puasa satu bulan penuh di bulan suci Ramadan tercermin di wajah-wajah bahagia mereka di hari Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri momen penting bagi pengalaman spiritual yang hanya terjadi sekali dalam setahun. Hari ini selain hari kegembiraan mukmin setelah menjadi tamu Tuhan selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, juga hari penuh dengan keridhaan Ilahi.
Arif terkenal Malaki Tabrizi terkait Idul Fitri mengatakan, “Hari raya Idul Fitri adalah hari ketika Allah Swt memilihnya di antara hari-hari yang ada selama satu tahun dan menjadikannya sebagai hari pemberian hadiah istimewa kepada hamba-Nya. Di hari ini, Allah mengizinkan hamba-Nya mendekatkan diri kepada-Nya dan menunjukkan penghambaan yang ikhlas. Di hari ini, Allah memberikan harapan kepada hamba-Nya dan mengampuni segala kesalahan mereka. Di hari istimewa ini pada hamba menyampaikan hajat dan harapannya kepada Allah, dan Tuhan pun berjanji akan memenuhi harapan serta hajat mereka.”
Di budaya Islam, Idul Fitri memiliki posisi istimewa. Posisi ini diakui oleh semua mazhab. Oleh karena itu, seluruh negara Islam memiliki beragam tradisi untuk merayakan hari bahagia ini. Idul Fitri dirayakan seluruh negara dengan tradisi khusus dan umat muslim berbagai negara berusaha menyelenggarakan hari raya Idul Fitri semeriah mungkin. Sejatinya lebih dari satu setengah miliar Muslim di dunia usai menunaikan ibadah puasa satu bulan penuh di bulan suci Ramadan, merayakan hari Idul Fitri.
Hari raya Idul Fitri bagi warga Iran merupakan hari perpisahan dengan hari-hari penuh maknawi bulan Ramadan. Meski shalat Idul Fitri bukan wajib, namun di pagi hari awal bulan Syawal (Idul Fitri), seiring dengan terbitnya matahari, hamba-hamba mukmin baik di desa maupun kota-kota Iran membersihkan badan mereka dengan mandi sunnah serta memakai pakaian baru. Selain itu, seluruh umat Muslim bersatu dan dengan solidaritas tinggi bersama-sama menunaikan shalat Idul Fitri dengan megah.
Setelah menunaikan shalat, umat Muslim saling bersilaturahmi dan saling memaafkan. Sejatinya Idul Fitri adalah simbol nyata persatuan umat Muslim, persatuan yang membuat syaitan putus asa dan musuh-musuh Islam merasa hina. Sir Tomas Arnold, ilmuwan Eropa mengatakan, “Shalat jamaah umat Muslim yang digelar dengan tertib merupakan ibadah agung dan membedakan kelompok ini dengan yang lain. Ketika manusia menyaksikan ribuan orang berkumpul di hari Jumat terakhir bulan Ramadan dan di hari Idul Fitri serta semuanya tenggelam dalam ibadah serta menampilkan syiar terbesar Islam, mereka mengatakan pada dirinya sendiri, Sesungguhnya tidak ada manusia pun di dunia ketika menyaksikan pemandangan ini kemudian tidak mengakuinya sebagai ritual agama terunggul...”
Ia menambahkan, “Suara azan membuat jiwa-jiwa bergerak dan menyeru mereka untuk menunaikan shalat. Saat itu, keagungan dan kebesaran iman serta ibadah ditampilkan dan manusia menyaksikan spiritualitas dan keikhlasan pada diri Muslim serta bakal terpengaruh.”
Kirim komentar