Perang Yaman, Kanal Salman, dan Sejarah yang Berulang 2
Kontrol Iran atas Selat Hormuz, seperti yang dilukiskan dengan elegan oleh Craig Murray, adalah mimpi buruk bagi AS—dan juga sekutunya. Jamak diketahui, Iran pernah menggunakan posisi strategisnya ini untuk mengancam siapapun yang menganggu kepentingan nasionalnya. Selat Hormuz yang sempit – dan disaat yang sama – sangat penting, merupakan jalur yang mau tak mau harus dilalui oleh negara-negara Teluk penghasil minyak. Sepertiga minyak dunia diangkut melalui Selat Hormuz.
Seandainya kita kembali pada kondisi Iran sebelum 1979, tentu saja hal ini tidak menjadi masalah serius. Iran bersahabat dengan AS, negara-negara Arab, dan sekutunya. Namun Iran yang sekarang bukanlah Iran yang dulu. Acapkali terjadi ketegangan antara Saudi-AS dan Iran dalam berbagai isu. Puncaknya, awal tahun lalu, Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Dari kondisi yang kurang mengenakkan ini, sebagaimana Craig Murray, saya meyakini bahwa Saudi sebisa mungkin menghindari berurusan dengan Iran.
Dari perspektif Arab Saudi, alasan ini bisa dimaklumi. Selat Hormuz merupakan senjata mematikan yang dimiliki Iran, yang sewaktu-waktu bisa mengguncang kawasan. Bisa saja, ketika ketegangan di kawasan meningkat, lalu Iran benar-benar merealisasikan ancamannya untuk menutup Selat Hormuz, maka otomatis, perdagangan minyak Saudi (yang menyumbang pendapatan terbesar) akan terganggu. Karena itu, Saudi butuh jalur alternatif lain untuk menghindari kemungkinan itu.
Kanal Salman merupakan ivenstasi yang sangat berharga. Mengontrol kanal berarti mengontrol pendapatan yang berasal dari biaya/ pajak keluar masuk yang bisa dikenakan kepada siapapun yang menggunakan kanal tersebut. Tentunya, pundi-pundi dolar akan semakin menggembung.
Ansarullah, Batu Sandungan
Seperti diakui oleh Menteri Luar Negeri Saudi Adel Al Jubeir, jatuhnya Presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi adalah mimpi buruk bagi Saudi dan sekutunya. Jika Yaman dipimpin oleh sosok yang tidak bisa didikte (sebagaimana Bashar Al Assad), maka kecil kemungkinan proyek Kanal Salman akan berjalan dengan lancar.
Sementara Sana’a, yang merupakan ibukota dan pusat pemerintahan Yaman, diduduki oleh Ansarullah yang menuntut pembaharuan. Saudi dihadapkan pada pilihan: 1) menyambut pemerintahan yang akan dibentuk pasca jatuhnya Hadi, atau 2) berupaya mengembalikan Hadi ke posisinya. Dan kita tahu, Saudi memilih opsi yang kedua, dan besar kemungkinan bahwa pilihan ini diambil karena Saudi memiliki hubungan yang lebih erat dengan Hadi, dan mendukungnya untuk berkuasa kembali bisa memuluskan jalan. Namun, mengembalikan Hadi sebagai presiden ternyata tidak mudah, karena rakyat Yaman menghendaki perubahan. Tak heran, Yaman diserang dengan kekuatan penuh, agar setiap pihak yang merupakan batu sandungan bisa disingkirkan.
Rational choice theory (teori pilihan rasional) menganggap bahwa individu/ aktor politik, cenderung memilih dengan “rasional”. Namun rasional yang dimaksudkan di sini adalah “sesuai dengan kepentingan pribadinya”. Teori ini banyak digunakan dalam ilmu ekonomi. Misalnya seorang pengusaha yang menciptakan sebuah produk – akan menekan biaya serendah mungkin, dan memaksimalkan keuntungan setinggi mungkin. Tentu, dalam persepektif si pengusaha, pilihan tersebut adalah rasional. Namun hal tersebut belum tentu rasional bagi pembeli yang harus membayar dengan harga tinggi. Juga belum tentu rasional bagi buruh yang terpaksa dibayar murah.
Begitu juga dengan Saudi. Mereka telah memperhitungkan dengan cermat berbagai keuntungan yang bisa mereka raih jika Kanal Salman beroperasi. Sehingga, meskipun serangan ini telah menewaskan sekitar 10.000 jiwa, menghancurkan infrastruktur, dan dikecam oleh publik internasional, Saudi tidak ambil pusing.
Namun saya merasa perlu memperingatkan kerugian yang lain, yang seharusnya telah disadari Saudi, yaitu biaya perang yang sangat mahal.
Akhir tahun 2015, Saudi mengumumkan peningkatan belanja militer sebesar $ 5,3 miliar. [4] Reuters memperkirakan, setiap bulannya Saudi harus mengeluarkan sekitar $175 juta untuk menyerang Yaman. Sementara perang terus berlanjut dan artinya, biaya yang dikeluarkan akan semakin membesar. Sungguh naas, bila dana yang disiapkan untuk membangun Kanal Salman akhirnya habis digunakan untuk berperang. (LiputanIslam.com)
—-
Referensi:
[1] Ulasan lebih lengkap tentang Pipa Islam oleh Fuad Tahir : http://putuheri.blogspot.co.id/2013/07/proyek-pipa-gas-syria-iraq-iran-y...
[2] https://www.craigmurray.org.uk/archives/2016/04/uk-killing-civilians-for...
[3] http://gulfnews.com/news/gulf/saudi-arabia/study-calls-for-950-kilometre...
[4] http://whatsupic.com/news-politics-world/1112-yemen-war-cost-saudi-$5-3bn-minister.html
Kirim komentar