Kabar Rahasia di Balik Pameran Rudal Balistik Berhulu Ledak Nuklir Saudi

Kabar Rahasia di Balik Pameran Rudal Balistik Berhulu Ledak Nuklir Saudi

 

 

saudi balistik df-3Teheran, LiputanIslam.com – Peristiwa pameran rudal balistik berhulu ledak nuklir oleh Arab Saudi dalam sebuah parade militer dilaporkan sempat menimbulkan perselisihan pendapat di tengah para elit penguasa negara kerajaan ini, namun akhirnya tetap dilaksanakan dengan lampu hijau Gedung Putih sebagai tekanan terhadap Rusia dan Iran.

Sebuah sumber informasi Saudi menyebutkan kepada lembaga pemberitaan FNA yang berbasis di Iran bahwa sebelum Saudi memamerkan rudal-rudal tersebut Pangeran Muqrin bin Abdulaziz al-Saud, Wakil Putera Mahkota Saudi, adalah orang yang antusias terhadap usulan untuk mempublikasikan kepemilikan Saudi atas rudal balistik tersebut sebagai respon atas ancaman-ancaman terakhir Rusia serta pesatnya perkembangan kemampuan rudal Iran dalam beberapa tahun terakhir. Persetujuan itu dia nyatakan dalam sebuah rapat yang dihadiri Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud dan Putera Mahkota Salman bin Abdul Aziz al-Saud serta para petinggi militer Saudi.

“Sebelum Saudi memamerkan rudal-rudal balistik berhulu ledah nuklir terdapat perselisihan pendapat antarinstitusi dan khususnya antarelit politik dan militer di negara ini terkait apakah Saudi harus harus menyingkap tabir kemampuan rudal itu, ataukah tetap dibiarkan terselubung,” ,” ungkap sumber tersebut sebagaimana diberitakan FNA Rabu (7/5/2014).

Lampu Hijau Dari Barack Obama

Sumber yang identitasnya dirahasiakan itu menyebutkan pemerintah Amerika Serikat (AS) juga terlibat dalam masalah ini. Menurut dia, Presiden AS Barack dalam kunjungan terbarunya ke Riyadh telah diberitahu soal keputusan Saudi untuk memamerkan rudal balistik tersebut. Dia lantas memberikan lampu hijau kepada Riyadh supaya pameran itu menjadi pukulan bagi Rusia dan Iran.

Pada akhirnya, pameran itu jadi dilaksanakan meskipun sebagian pejabat Saudi, termasuk Menteri Luar Negeri Saud al-Faisal, menyatakan keberatan dan menilai keputusan itu dapat menjerumuskan Saudi pada bahaya dan ancaman.

Sumber tersebut juga menjelaskan bahwa kesepakatan pembelian sejumlah hulu ledak nuklir telah diteken pada peristiwa lawatan Putera Mahkota Saudi ke Islamabad beberapa bulan lalu. Kemudian, pengiriman hulu ledak itu ke Saudi diawasi langsung oleh Panglima Angkatan Bersenjata Pakistan Jenderal Raheel Sharif yang juga menghadiri pameran rudal DF-3 dalam parade militer di Hafar al-Batin.

Menurut sumber tersebut, mengetahui adanya transaksi hulu ledak itu dinas rahasia Israel (Mossad) dan dinas rahasia AS (CIA) segera menekan Pakistan dan Saudi supaya mengurungkan transaksi. Namun, Saudi tetap bersikukuh sambil menyatakan bahwa Riyadh menjamin senjata pemusnah massal dan inkonvensional itu tidak akan digunakan terhadap Israel atau negara manapun yang menjadi sekutu AS.
“Sudah dibentuk sebuah tim yang terdiri dari para penasehat militer AS untuk melakukan pengawasan secara permanen terhadap senjata itu,” lanjut sumber itu.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, 29 April lalu untuk pertama kalinya Saudi memamerkan Rudal balistik jarak jauh jenis DF-3 (NATO menyebutnya CSS-2) buatan Cina. Saudi membelinya dari Cina pada tahun 1988 di kota militer Hafar al-Batin, sebuah kota persimpangan perbatasan Saudi, Kuwait dan Irak.

Rudal DF-3 memiliki jarak tempuh 2,650 km dan membawa muatan seberat 2,150 kg serta dapat dilengkapi  hulu ledak nuklir tunggal dengan daya ledak sebesar 1-3 megaton. Sayangnya, tingkat akurasi barang lama ini dinilai sangat rendah.

Ikut Tekan Rusia

Dia juga mengungkapkan bahwa sejalan dengan kepentingan AS dan Uni Eropa dalam krisis Ukraina, Saudi menghentikan sebagian kontrak persenjataannya dengan Rusia sebagai bentuk partisipasi Riyadh dalam penjatuhan sanksi Barat terhadap Rusia.

Menurut dia, ancaman Moskow untuk keluar dari dialognya dengan AS mengenai krisis Suriah serta peningkatan bantuan militer Rusia kepada pemerintah Suriah telah menggusarkan AS dan Saudi, dan Riyadhpun lantas bergabung dengan AS dan Eropa menekan Rusia.

Dia kemudian membenarkan laporan adanya sejumlah besar militan berkewarganegaraan Chechnya, Saudi dan negara-negara Eropa yang diterbangkan dari Suriah ke Ukraina untuk ikut berperang melawan Rusia. Dia menjelaskan bahwa dinas intelijen Saudi menanggung dana relokasi itu dengan kordinasi AS dan beberapa negara Eropa.[tvshia/liputanislam.com]

Kirim komentar