Eratan Tangan Netanyahu atas Tangan-tangan 'Mujahidin' Suriah

Eratan Tangan Netanyahu Tangan-tangan 'Mujahidin' Suriah

 

 

 

Netanyahu tiba di Dataran Tinggi Golan, mengenakan jaket hitam tebal dan menghampiri para “Mujahidin” yang tengah berbaring lemah. Dengan senyum penuh arti, Perdana Menteri itu mengulurkan tangan dan menyalami para pemberontak yang telah tiga tahun lamanya berperang di Suriah untuk menumbangkan Presiden Suriah Bashar al Assad.

Berita ini pun menyebar luas dan sampai kepada pimpinan oposisi Suriah yang bermarkas di Turki. Muhammad Badie, tokoh oposisi Suriah mengatakan, bahwa oposisi Suriah berterima kasih kepada Netanyahu atas kunjungannya pada 18 Februari ke sebuah rumah sakit darurat di wilayah Golan, tempat dimana para pemberontak Suriah yang terluka dirawat. Hal tersebut disampaikan Badie kepada Israel Radio, Sabtu (22/2). Badie juga menuturkan, dirinya dan teman-temannya berterima kasih kepada pemimpin negeri Yahudi itu karena menyampaikan dukungan secara terbuka bagi para militan Suriah yang terluka. Apakah Israel merupakan sahabat bagi bangsa Arab Suriah?

Mari Melawan Lupa

Ketika Israel mendadak begitu baik kepada bangsa Arab, seharusnya kita mengingat kembali ucapan Rabbi Yaacov Perrin, tanggal 27 Februari 1994 di New York Times — tentang bagaimana Yahudi memandang Arab (catatan: Yahudi yang dimaksud di sini adalah Yahudi Zionis yang menjajah Palestina). Saat itu Perrin berucap, “Satu juta orang Arab tidak sebanding dengan kuku  seorang Yahudi.”

Jika demikian halnya, berapa juta orang Arab yang sebanding dengan jari orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan tangan orang Yahudi? Berapa juta orang Arab  yang sebanding dengan badan orang Yahudi? Berapa juta orang Arab yang sebanding dengan kepala orang Yahudi? Serendah itukah bangsa Arab di hadapan bangsa Yahudi? Tentu tidak, bagi kelompok Yahudi penentang Zionisme seperti Yahudi Naturei Karta, namun jawabannya berubah menjadi iya untuk Yahudi seperti Ariel Sharon, Netanyahu dan para pengikutnya.

Meski dimuat di sebuah media terkemuka dan disebarkan ke seluruh dunia yang bisa diakses dengan sangat mudah, tidak lantas menjadikan orang orang Arab ataupun kaum muslimin lantas menyadari siapakah musuh mereka yang sesungguhnya. Sampai hari ini, umat Nabi Muhammad Saw di seluruh dunia lebih memilih bertikai satu sama lain.

Darimanakah Kutipan Tersebut Berasal?

Konon kutipan “Satu juta orang Arab tidak sebanding dengan kukunya orang Yahudi,” berasal dari Midrash Ulangan dalam bahasa Ibrani. Pada bagian yang menceritakan kematian Musa as, disebutkan “God informs Moses that He can either pardon the Israelites for having made the Golden Calf or permit Moses to enter the Promised Land, but not both, whereupon Moses immediately responds, “Let Moses and a thousand like him be destroyed but let not the fingernail of a single Israelite be harmed.

Terjemahan bebas: Allah memberitahu Musa bahwa Dia bisa mengampuni orang Israel karena telah membuat lembu emas – atau (pilihan kedua) – mengizinkan Musa untuk memasuki tanah yang dijanjikan , tetapi tidak (mengabulkan ) keduanya, dimana Musa segera menjawab, “Biarlah Musa dan seribu (orang) seperti dia dihancurkan, tapi janganlah sampai menghancurkan  kuku dari seorang bangsa Israel.

Kejadian itu kemudian ditafsirkan oleh Yahudi Zionis sebagaimana yang diungkapkan Rabbi Perrin, sehingga perlakuan tidak manusiwi Israel kepada bangsa Arab Palestina bisa diartikan sebagai implementasi Israel atas tafsir kitab sucinya. Saat mereka memborbadir anak-anak Palestina yang tak berdosa, atau ketika menembaki petani-petani Palestina di sekitar perbatasan, mungkin bagi mereka hal itu hanyalah sedang memotong kuku!

Terkait sandaran dalil mereka ke Midrash Ulangan ini, seorang Rabbi Yahudi lainnya yang bernama Alan W. Miller memberikan tanggapan: “Dalam angan-angan Zionis yaitu orang-orang sinting dari ultra –orthodox, mendistorsi nilai-nilai mulia kemanusiaan saja tidak cukup. Mereka juga dengan sangat kejam mendistorsi teks-teks kitab suci sehingga keluar dari makna yang sesungguhnya.”

Untuk mengetahui siapakah orang Yahudi Zionis ini yang sebenarnya, Rabbi Allan lebih jauh mengungkapkan, “Mulai saja dengan asumsi awal bahwa Iblis dapat mengutip Alkitab untuk mencapai tujuannya.”

Kemiripan Pola Pikir Yahudi dan Takfiri

Orang-orang yang disebut orang sinting oleh Rabbi Alan mungkin akan mengingatkan kita sekelompok kaum di dalam tubuh Islam yang memiliki kemiripan dan cara yang hampir sama dalam mendapatkan tujuannya. Mereka gemar menafsirkan teks-teks Kitab Suci dengan penalarannya sendiri tanpa ilmu yang memadai sebagaimana para ulama-ulama terdahulu. Hanya berbekal Al-Qur’an terjemahan, mereka sanggup mengkafirkan sesama muslim lainnya. Kelompok ini juga sangat gemar memotong teks, memalsu kitab-kitab klasik, memodifikasi kitab-kitab agar sesuai dengan kepentingan kelompoknya.

Merekalah kelompok Takfiri yang kini tengah berperang di Suriah. Dalam petualangannya, mereka terbagi menjadi pecahan kelompok sesuai ideologinya masing-masing. FSA, Al Nusra dan ISIS adalah kelompok jihadis yang didukung oleh negara-negara asing, termasuk Israel baik secara diam-diam ataupun terang-terangan. Akibatnya, Suriah hancur dan merengut nyawa 140.000 rakyatnya. Jutaan lainnya mengungsi dan hidup menyedihkan.

Ketika Badie berterimakasih kepada Netanyahu, apakah dia sama sekali tidak mengetahui bahwa dia dan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang Arab lainnya, “hanya” sama dengan kuku-kukunya seorang Yahudi? Biarlah Badie yang menjawabnya, namun kita harus menyadari bahwa di dalam percaturan politik dan  kekuasaan, biasanya selalu berlaku  atas dasar kepentingan.

Sayangnya, Badie tidak sendiri. Masih ada begitu banyak Badie-Badie lainnya yang akan selalu berangkulan dengan Israel, untuk menganiaya Palestina, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya.

Referensi: The New York Times: From Orthodox Jewish Education to Hebron; Scripture Distorted.

Liputan Islam: Pemimpin Suriah Puji Netanyahu[tvshia/liputanislam.com]

Kirim komentar