Antara bunga dan cacian, siapakah sebenarnya yang menebar kebencian?

Antara bunga dan caci-maki, siapakah sebenarnya yang menebar kebencian?

 

 

Cuaca Bandung cukup terik ketika Liputan Islam tiba di jalan Buah Batu hari Ahad lalu (20/4). Di mulut jalan kecil, Jalan Cijagra, terlihat banyak polisi. LI pun berbelok, memasuki jalan itu. Selain polisi, terlihat orang-orang bertopeng ninja (hanya tampak mata dan mulut) bergerombol di pinggir jalan. LI jadi teringat pada penampilan khas para pemberontak Suriah. Apalagi di pangkal lengan baju mereka ada logo “Laskar Thaliban”. Sebagian dari mereka ada yang merokok. Sesekali mereka meneriakkan takbir dan “Syiah sesat!”

LI pun masuk ke halaman masjid Al Fajr, tempat diselenggarakannya Deklarasi Nasional Anti Syiah yang digagas beberapa organisasi garis keras, seperti FUI, FUUI, MIUMI, dan LPPI. Bagian dalam masjid dan halaman masjid berukuran sedang itu sudah penuh sesak. Menurut pengamatan LI, total hadirin antara 700-800 orang. Mereka mendengarkan orasi dari 12 ustadz atau ulama yang semuanya berisi klaim tentang kesesatan Syiah.

Jangan Sampai Jokowi Jadi Presiden!

Sebelumnya dikabarkan bahwa Gubernur Jawa Barat yang berasal dari PKS akan hadir, namun ternyata dia hanya mengirimkan utusan yang menyampaikan bahwa Pemprov Jabar mendukung upaya kaum Muslim dalam membersihkan aliran sesat. Walikota Bandung tidak hadir, namun ada Wakil Walikota, Mang Oded, yang juga berasal dari PKS.

Aroma politik semakin terasa karena sebagian pembicara berorasi menyerukan agar jangan coblos PDIP.

Sekjen FUI Muhammad Alkhaththtath misalnya, menyerukan agar agar partai-parai Islam bersatu untuk menjatuhkan partai nasional dan mengalahkan Capres Jokowi.

“Jangan sampai Jokowi jadi presiden, karena kalau dia jadi presiden dia pasti akan mengangkat Jalaluddin Rakhmat sebagai menteri agama. Padahal yang sudah pasti, Jalaluddin adalah penganut Syiah yang sesat!” katanya.

Sementara Ahmad Cholil Ridwan dari MUI menyerukan agar mendesak capres yang kuat seperti Prabowo untuk membuat MoU anti aliran sesat.

Orasi-orasi mereka disambut takbir dan teriakan “Syiah kafir!” dari para hadirin yang sebagian besar berparas garang, dengan celana cingkrang. Banyak di antara mereka yang menggunakan kaos hitam seragam bertuliskan “Syiah bukan Islam” di punggung dan “Kami Muslim, Bukan Syiah” di dada. Sebagian lain mengenakan rompi bertulis “Laskar Anti Syiah”. Ada pula yang berseragam kaos Al Qaida (di bagian punggung ada gambar bendera Al Qaida dan di dada bergambar pistol).

Syiah Wajib Dibunuh, Kata Rasulullah?

Situasi tambah ‘menyeramkan’ karena salah satu orator bernama Abu Jibril menyatakan bahwa mengkafirkan Syiah adalah wajib dan wajib pula dibunuh. Abu Jibril bahkan mengklaim itu adalah hadis Nabi Muhammad.  Abu Jibril dalam orasinya  mengulang-ngulang klaim-klaim kesesatan-kesesatan Syiah,  “Quran-nya tidak sama, rukun imannya tidak sama, nabinya tidak sama!”  Beberapa orang menyambut pernyataannya itu dengan teriakan “Syiah kafir!”, “Syiah sama dengan Yahudi!”, atau “Syiah Setan!”

Klaim tersebut sebenarnya sudah berulang kali dibantah oleh ulama Ahlussunnah sekaliber alm. Gus Dur, KH Quraish Shihab, KH Said Aqil Siradj, KH Din Syamsuddin, atau oleh organisasi umat Syiah, ABI dan IJABI.

Abu Jibril juga menyerukan agar para hadirin mengambil langkah nyata, “Orang-orang Syiah tertawa bertepuk tangan hanya kita berkumpul mencerca mereka, menuduh mereka berbagai-bagai dengan tuduhan, tetapi tidak melakukan apa-apa! Dan mereka tertawa itu. Sedang mereka tidak banyak melakukan apa yang kita lakukan namun mereka bertindak, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa!”

Ahmad Cholil: Pemerintah Indonesia Sudah Menodai  Ka’bah

Sebelumnya, Ketua MUI bidang Ukhuwah Islamiyah, KH Umar Shihab telah menyatakan bahwa kehadiran anggota MUI dalam deklarasi itu tidak mendapat restu organisasi dan bukan mengatasnamakan Ormas MUI. Bahkan, menurut KH Umar Shihab, dalam waktu dekat MUI akan membahas nama-nama anggotanya yang akan hadiri ke deklarasi itu. Namun demikian, ada juga pengurus MUI Pusat yang tetap hadir, yaitu Ketua MUI  bidang Seni Budaya, Ahmad Cholil Ridwan (ACR).

ACR mengatakan antara lain, untuk membasmi Syiah, kaum Sunni tidak bisa menggunakan emosi, melainkan dengan ilmu dan menggunakan berbagai strategi, antara lain politik. ACR juga menyinggung Ahmadiyah. Menurutnya, hanya Ahmadiyah dari Indonesia saja yang bisa berhaji. Di negara-negara lain, seperti  Afghanistan dan Maroko, orang Ahmadiyah dilarang naik haji. Artinya, menurut KH Ahmad, pemerintah Indonesia sudah menodai  Ka’bah dengan menghadirkan orang kafir.

Farid Okbah dan Buku Antologi Islam

Orator lainnya, Farid Ahmad Okbah (FAO), dengan berapi-api mengatakan, “Meskipun Pemimpin Syiah Iran sudah mengeluarkan fatwa haram menghina sahabat dan istri-istri Nabi, namun faktanya, saya buktikan, di buku yang diterbitkan oleh Al Huda ini, ada penghinaan pada istri Nabi! Karena itu, fatwa tersebut terbukti dusta!”

klik untuk memperbesar

FAO  mengacungkan sebuah buku berjudul “Antologi Islam” dan menyebut halaman 64. Dalam rangka tabayun, LI mengontak seseorang yang memiliki buku tersebut. Di halaman 64 buku itu memang tertulis kritikan terhadap beberapa perilaku Aisyah ra (antara lain, mudah cemburu). Yang tidak disampaikan (atau memang sepertinya sengaja disembunyikan) oleh FAO adalah bahwa berbagai macam kritikan tersebut sebenarnya justru berlandaskan kitab-kitab hadits paling muktabar Ahlu Sunnah, yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

buku antologi

Seperti namanya, buku Antologi Islam sendiri sebenarnya merupakan kitab ensiklopedi isu-isu Sunnah-Syiah. Dengan demikian, seluruh isinya selalu memiliki rujukan kepada kitab-kitab paling muktabar Ahlu Sunnah.

Pembacaan Deklarasi Anti-Syiah

Acara ditutup dengan pembacaan deklarasi anti-Syiah oleh KH Athian Ali. Namun sebelumnya, dia memberi pengantar, antara lain:

     “Gur Dur telah disesatkan oleh pemahaman-pemahaman sesat seperti Syiah ini. Karenanya kami sangat menghimbau pemerintah agar membela warga negaranya, hal yang paling asasi bagi orang beragama adalah keyakinan, pemerintah wajib membela 6 agama yang sudah diakui resmi pemerintah. Mereka tidak punya alasan berlindung di balik HAM, karena bukan termasuk HAM mencaci maki agama yang resmi. Ini adalah pidana. Kita semua mengharapkan kedamaian di negeri ini. Umat Islam sudah terlalu lama bersabar menghadapi kelompok-kelompok yang menyebarkan kebencian. Tapi kesabaran ada batasnya. Kami tidak bisa bersabar ketika akidah ini diinjak-injak. Demi akidah kami siap mengorbankan waktu tenaga, harta, bahkan nyawa!”

Perkataannya disambut teriakan takbir dan “Hancurkan Syiah!”

KH Athian Ali (foto:LiputanIslam.com)

Pernyataan Athian ini sangat kontradiktif dengan acara itu sendiri yang penuh dengan hate speech dan bahkan seruan pembunuhan. Bahkan sebagaimana bisa dilihat dalam video rekaman di atas, Abu Jibril mengakui bahwa pihaknya sudah sering mencerca dan menuduh kaum Syiah.

Ahmad Fuad Fanani dari Maarif Institute, sebagaimana dikutip Jakarta Post (19/4) menyatakan, mengutuk keras acara Deklarasi Anti-Syiah ini karena “Ini adalah bentuk baru sektarianisme yang akan membakar konflik.”

Sementara itu, Bonar Tigor Naipospos dari Setara Institute untuk Perdamaian dan Demokrasi menyebut acara ini sebagai bentuk ‘hate speech’. “Hate speech adalah perilaku kriminal, sebagaimana tercantum dalam Pasal 156 UU Kriminal tentang pernyataan kekerasan dan penghinaan pada kelompok tertentu.” (Jakarta Post, 19/4)

Acara kemudian ditutup dan dilaksanakan sholat zuhur berjamaah. Usai sholat, LI mendekat ke KH Athian Ali yang sedang dikerumuni wartawan. Menurut Athian, pihaknya berencana untuk mendirikan ada posko-posko anti-Syiah di tiap masjid, serta menyebarkan petugas intel untuk sosialisasi “Syiah sesat” dan mengawasi tiap-tiap masjid.
 

Sementara itu,  di hari yang sama, umat Syiah di Jakarta mengadakan acara pembagian bunga di Bundaran HI dalam rangka memperingati hari kelahiran putri Rasulullah, Sayyidah Fathimah Az-Zahra. Menurut Aminah Ali Assegaf, ketua bidang kemaslahatan perempuan dan anak DPP Ahlul Bait Indonesia (ABI), penggagas acara tersebut, pembagian bunga bermakna bahwa semua kaum muslim yang mencintai putri Rasulullah hendaknya menebarkan rasa damai dan kasih sayang sebagaimana yang selama ini diteladankan oleh Fathimah Azzahra.[tvshia/liputanislam.com]

Kirim komentar