Tls10 Persaudaran dalam Islam bag 1

Persaudaraan dalam Islam bag 1

 

 

Ada berbagai bentuk persaudaraan dalam Islam, sebagaimana adanya berbagai bentuk kelompok dalam Islam. Bentuk pertama dari persaudaraan adalah persaudaraan keluarga seperti dua saudara laki-laki atau dua saudara perempuan. Atau dua orang yang terkait melalui ibu atau ayah mereka, mereka semua bersaudara dan disebut juga sedarah. Bentuk kedua persaudaraan berkaitan dengan perawatan. Jika dua bayi yang tidak memiliki hubungan keluarga menyusui dari satu wanita dalam waktu tertentu, sesuai syarat dan dengan kondisi yang disebutkan dalam hukum fikh, mereka akan menjadi kakak beradik, menjadi dua orang saudara, persaudaraan ini disebabkan karena satu persusuan.

 

Ketika orang-orang yang dilarang untuk menikah disebutkan dalam Qur‘an, disebutkan kalimat berikut: ... ibu angkat yang telah menyusui Anda dan saudara Anda melalui susuannya... (4 : 23) ini berarti bahwa ibu yang merawat Anda dilarang untuk anda nikahi seperti halnya anda dilarang menikahi ibu Anda sendiri, begitu juga saudara atau saudari anda sepersusuan [menyusu dari wanita yang sama] juga dilarang untuk anda nikahi, walau ia bukan dari ibu dan ayah yang sama dengan anda. Ini juga bentuk lain dari persaudaraan selain dari persaudaraan keluarga.

 

Bentuk ketiga adalah persaudaraan satu suku. Dua orang dari suku yang sama dianggap bersaudara, meskipun mungkin tampak aneh dengan kacamata kita sebagai orang indonesia. Namun Qur'an sendiri menyatakan bahwa para nabi adalah saudara dari kaum mereka. Ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang membuktikan hal ini : Dan Berkata [Hud] saudara kaum Âd, ketika ia memperingatkan orang-orangnya. (Qs 46:21) Dan untuk Kaum Madyan Kami mengirim Shu'aib, saudara mereka. (Qs 29:36) sungguh kami mengirim Saleh kepada kaum Tsamud, saudara mereka, dan ayat-ayat lainnya. Oleh karena itu, ayat ini menilai persaudaraan dan kasih sayang antara orang-orang beriman karena Allah. disini dinyatakan bahwa tali ilahi persatuan antara saudara seiman yang ada harus dijaga, tali kuat yang ada yakni persaudaraan karena Allah, karena sama-sama mengimani Allah.

 

Bagaimana persaudaraan bisa dicapai? Disebutkan pada ayat di atas yaitu dengan belas kasih dalam hati dan dengan mengingat Allah swt. Ketika kalian menghadapi musuh, maka Allah mempersatukan hati kalian, bersatunya hati adalah berkat kebesaran ilahi. Ketika Al-Qur'an menyebutkan masalah persatuan di antara umat Islam (persatuan Islam), disitu juga disebutkan persaudaraan dalam Islam. Ketika ayat ini dipahami dan diamalkan maka umat Islam benar-benar menjadi Ummat tunggal yang unggul: Pertama bahwa agama Allah dan Qur’an yang melingkupi : ''Berpegangteguhlah kepada Allah'' dan kedua, kebersamaan hati dimana Muslim benar-benar mempertimbangkan satu sama lain sebagai saudara Muslim mereka. Jika salah satu tidak berpikir tentang Muslim lain maka ia benar-benar bukan bagian dari umat Islam. Di tempat lain, rasa cinta atas dasar agama dan berpegang teguh pada hal ini dijelaskan dengan cara sebagai berikut : “... tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus”(49:7 ) Inilah yang dimaksud dengan berpegang teguh pada agama Allah, namun ayat-ayat yang jelas menyebutkan masalah belas kasih seperti ayat-ayat 62-63 Surah Anfal :

 

Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang beriman(8:62)

 

Qur’an kemudian segera berbicara tentang orang-orang yang beriman :

 

dan [Allah] menyatukan hati mereka , dan jika Anda menghabiskan semua yang ada di bumi, Anda tidak bisa menyatukan hati mereka... (8:63)

 

Sebagai contoh untuk ini kita bisa menyebutkan bahwa itu tidak mungkin dilakukan manusia mungkin untuk mewujudkan rasa kasih sayang antara hati orang-orang Aws dan Khazraj, dua kabilah yang telah berperang kurang lebih selama 120 tahun. Hal yang sama bisa dikatakan untuk kaum Quraisy dan suku-suku Arab lainnya yang telah berperang selama bertahun-tahun. Tidak ada kemungkinan untuk menempatkan kasih sayang antara hati mereka bahkan melalui penggunaan berbagai harta benda duniawi.

 

 ... Tapi Allah menyatukan mereka bersama-sama. Memang Dia adalah yang Maha Kuasa dan Maha bijaksana(8:63)

 

Dengan ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa kasih sayang ini adalah berkat ilahi yang hanya dicapai melalui keyakinan yang kuat.

 

Arti secara bahasa dari persaudaraan, Syaikh Tusi mendefinisikan istilah Arab akh “saudara”  di Tibyan. Dia menyatakan bahwa akh adalah istilah yang digunakan ketika dua orang atau lebih memiliki tujuan yang sama. Dia mengatakan : yaquluna fulanun yatawakha [ sebuah kata yang memiliki akar yang sama dengan akh ] sha’na fulanin (maskudnya orang tertentu di sepanjang jalur berbeda namun tujuan mereka sama). Atau , dinyatakan : khuz ‘ala hadza al-wakha [kata yang memiliki akar yang sama dengan akh] (melakukan tindakan dan mengambil langkah serius dengan niat ini).

 

Jadi, arti secara bahasa prinsip kata berhubungan dengan orang-orang pergi ke arah yang sama. Sekelompok umat bersatu adalah sekelompok orang yang memiliki satu pemimpin dan satu tujuan. Saudara adalah orang-orang yang memiliki satu tujuan. Oleh karena itu, ada jenis korelasi literal antara umat dan persaudaraan. Oleh karena itu, hati orang yang beriman adalah bersaudara mereka bersama-sama dalam satu tujuan.

 

Kekhawatiran mereka adalah dengan Islam dan takdirnya. Mereka semua berpikir tentang dunia Islam meskipun fakta bahwa mereka tersebar di seluruh dunia . Qur’an menyatakan: dan [Allah] menyatukan hati mereka (8:63)

 

ini sama dengan menyatakan : Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka...(62:2) Dengan kata lain, tindakan ini merupakan tindakan yang Allah lakukan. Allah-lah yang mengirimkan utusan. Allah-lah yang menyatukan hati. Istilah Dia dalam ayat-ayat ini yakni [Allah], membawa banyak makna. Menyatukan hati umat Islam merupakan tindakan ilahi, tidak satu pun manusia mampu melakukannya.[tvshia]

Kirim komentar